advertorial

BULU TANGKIS INDONESIA Pelapis Dituntut Samai Level Greysia/Nitya

Nitya Krishinda Maheswari (depan) dan Greysia Polii (REUTERS/Frank Cilius)Nitya Krishinda Maheswari (depan) dan Greysia Polii (REUTERS/Frank Cilius)

Bulu tangkis Indonesia menanti prestasi dari ganda putri.

Madiunpos.com, JAKARTA — Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari menjadi satu-satunya tumpuan pada setiap kompetisi pada tahun sebelumnya. Pelatih ganda putri, Eng Hian, menuntut para pemain pelapis segera naik level.
Ada 22 pemain yang akan ditangani Eng Hian mulai tahun ini. Jumlah itu diisi enam pasang pemain pelatnas utama dan lima pasang pada level pratama. Selama ini ganda putri hanya punya satu pasangan top yakni Greysia/Nitya.

Situasi itu tak ada lagi dalam kamusnya mulai tahun ini. Para pemain lapis utama dituntut punya level setara Greysia/Nitya. Mereka adalah Della Destiara/Rosyita Eka Putri Sari, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani, dan Rizki Amelia Pradipta/Tiara Rosalia Nuraidah. Jika tidak ada perkembangan, kemungkinan para pemain dipulangkan ke klub.

“Selama ini mereka disebut sebagai pelapis, istilah itu tak ada lagi nantinya. Mereka harus bisa bisa lolos sesuai target dalam sekian persen pada kompetisi yang diikuti,” kata Eng Hian, Kamis (5/1/2017).

Eng Hian akan menerapkan sistem reward and punishment untuk mendorong pengembangan pemain muda. Menurut dia, konsep itu tidak sekadar untuk regenerasi, melainkan agar para atlet memiliki ambisi untuk menjadi pebulutangkis level dunia. Eng Hian akan mengadopsi sistem Keys Performance Index (KPI) untuk memetakan kemampuan pemain.

“Setidaknya 80% [dari KPI] harus dicapai. Akan ada evaluasi setiap enam dan 12 bulan. Yang enam bulan tidak sampai 60% dari KPI ya out,” tegasnya.
Sistem itu dinilainya dapat mendongkrak kompetisi internal para pemain ganda putri. Atlet kerap merasakan minder pada saat bertanding di luar, sedangkan kompetisi di latihan justru lebih kuat. Eng Hian berpendapat para atlet sebenarnya memiliki kualitas untuk menjadi juara, tapi seringkali gagal ketika berhadapan di kompetisi internasional.

“Selain KPI, kami berharap ada tim psikolog untuk membenahi mental para pemain. Saya sudah minta ke Binpres,” ujarnya.

Iklan Baris

    No items.