Keren! Dari Sedotan Bambu, Pemuda Madiun Raih Omzet Rp90 Juta/Bulan

Pemuda Madiun sukses membuat bambu wulung memiliki nilai ekonomis tinggi dengan menjadikanya sebagai sedotan.

Keren! Dari Sedotan Bambu, Pemuda Madiun Raih Omzet Rp90 Juta/Bulan Fahmi Ali Mufti, 25, pemuda asal Kabupaten Madiun pembuat sedotan bambu yang sudah diekspor. (Abdul Jalil-Madiunpos.com)

    Madiunpos.com, MADIUN — Seorang pemuda asal Desa Kebonsari, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, membangun usaha kreatif ramah lingkungan, yaitu produksi sedotan bambu.

    Pemuda bernama Fahmi Ali Mufti, 25, itu tidak menyangka pasar merespons positif produknya. Bahkan sedotan bambu buatannya sudah mulai diterima pasar ekspor. Anak kedua dari pasangan Muhtarom dan Irtiqiyah Himmatin itu menamakan produknya itu Sapu Jagat.

    Sebenarnya, bisnis sedotan bambu ini baru dimulai Fahmi beberapa bulan lalu. Ia semakin optimistis saat respons pasar sangat positif atas keberadaan produk ramah lingkungan ini.

    Melahirkan Pas Tes CPNS Usai, Wanita Di Probolinggo Ini Justru Dapat Nilai Memuaskan

    Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Prodi Perbankan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menceritakan awal mulanya ia membuka usaha ini dengan modal Rp90 juta. Modal ini pinjaman dari keluarganya.

    Kala itu, ia mengaku masih kebingungan untuk membuat produk bisnis seperti apa. Ia pun berdiskusi dengan para saudaranya di Pondok Pesantren Al Huda Setemon, Desa Kebonsari, Kecamatan Kebonsari, untuk membincang bisnis.

    Ia menginginkan bisnis tersebut juga bisa memberdayakan para santri di ponpes tersebut. “Saya ingin membuat produk kerajinan dari bambu, tetapi waktu itu belum tahu mau bikin apa,” kata dia kepada wartawan, akhir Januari 2020.

    Berkat Porang, Pemulung Madiun Ini Jadi Miliarder

    Setelah beberapa lama, muncul ide untuk membuat sedotan bambu yang ramah lingkungan. Menurutnya, usaha sedotan bambu ini sangat tepat melihat banyak bahan baku yang tersedia di Madiun. Selain itu, masyarakat dunia juga mulai sadar untuk meninggalkan sedotan plastik yang mencemari lingkungan.

    “Bahan baku untuk membuat sedotan bambu ini ya bambu jenis wuluh. Bambu jenis ini yang biasanya digunakan untuk membuat suling,” jelas dia.

    Fahmi menyampaikan bahan baku ini sangat banyak tersedia di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Madiun.

    Terlebih saat ini bambu wuluh dianggap tidak memiliki nilai ekonomis. Padahal kalau dibuat produk lain bisa bernilai ekonomis tinggi.

    Bawa Kabur Truk, Pengidap Gangguan Jiwa di Tulungagung Tabrak Rumah

    Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Fahmi pun memulai memproduksi sedotan bambu dengan modal utang tadi. Setelah produk sedotan bambu ini jadi, Fahmi pun mulai memasarkannya.

    Hingga akhirnya seorang pengusaha asal Surabaya tertarik untuk melihat produk sedotan bambu ini. Pengusaha itu pun datang ke tempat produksinya di Madiun. Kedatangan eksportir itu untuk melihat apakah produk sedotan bambu miliknya layak untuk diekspor atau tidak.

    Waktu itu, Fahmi telah menyiapkan sekitar 4.000 batang sedotan bambu. Namun setelah disortir dan teliti, sedotan bambu yang bisa dijual ke pasar ekspor hanya lima batang. Ini dilihat dari mutu produknya seperti panjang, tekstur, hingga tingkat kehalusannya.

    Meski ribuan produk sedotan bambunya dianggap tidak layak, Fahmi tidak putus asa. Ia mendapat pelajaran dan pengalaman untuk memperbaiki kualitas produknya.

    Penasaran Di Mana Titik Nol Kilometer Ponorogo? Ini Lokasinya

    Untuk memproduksi sedotan bambu ini, Fahmi dibantu lima warga setempat dan sembilan santri. Dalam sehari, ia bisa memproduksi 1.500 batang sedotan bambu.

    Dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar, ia berhasil membuat sedotan bambu yang sesuai permintaan pasar ekspor. Kini, produknya ini sudah tembus di pasar Korea dan Australia.

    Setiap dua pekan sekali, ia bisa mengekspor antara 10.000 hingga 15.000 batang sedotan bambu. Di luar negeri, sedotan bambunya dijual seharga 1 dolar AS per batang.

    Selain dijual di luar negeri, sedotan bambu produknya juga dijual di pasar lokal dengan harga Rp10.000 per paket yang berisi tiga sedotan, tempat penyimpanan, dan sikat pembersih. Sedangkan harga grosir Rp1.500/batang dengan pembelian minimal 2.000 batang.

    Meski baru berjalan beberapa bulan, omzet penjualannya telah mencapai Rp90 juta per bulan. Saat ini permintaan sedotan bambu pun semakin banyak.

    Rawat Ibunya Yang Terkena Kanker, Kisah Dua Bocah Surabaya ini Viral

    Pembuatan Sedotan Bambu

    Fahmi menyampaikan pembuatan sedotan bambu sebenarnya tidak rumit. Tahap awal yang perlu dilakukan yaitu menyortir bahan baku dengan memilih bambu yang lurus dan tidak cacat. Setelah itu, bambu berkualitas baik tersebut selanjutnya dijemur hingga berwarna kecokelatan.

    Batang bambu yang sudah kering kemudian dipotong-potong dengan panjang sekitar 22 cm. Potongan bambu itu kemudian direbus dalam air mendidih yang sudah dicampur dengan daun sirih.

    “Daun sirih ini untuk menghilangkan bakteri dan kotoran yang menempel di bambu. Kemudian bambu itu dibilas air bersih dan dijemur lagi,” jelas dia.

    Setelah proses penjemuran dan kering, kedua ujung batang bambu itu dihaluskan supaya halus dan nyaman dipakai.

    Dia mengklaim sedotan bambu ini memiliki serat yang dapat menyaring kotoran pada air minum. Sedotan bambu itu juga bisa digunakan berkali-kali.



    Editor : Kaled Hasby Ashshidiqy

    Get the amazing news right in your inbox

    Berita Terpopuler

    0 Komentar

    Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.

    Komentar Ditutup.