Mantap! Iduladha, Omzet Perajin Besek di Banyuwangi Meningkat

Omzet Perajin Besek untuk Wadah Hewan Kurban di Banyuwangi Naik 60 persen

Mantap! Iduladha, Omzet Perajin Besek di Banyuwangi Meningkat Perajin besek di Banyuwangi (Detik.com)

    Madiunpos.com, BANYUWANGI — Anyaman bambu sebagai wadah atau besek hewan kurban sedang naik daun. Para pengrajin besek di Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi banjir orderan.

    Hal ini setelah ada kampanye tidak menggunakan kresek atau plastik kepada panitia penyembelihan hewan kurban sejak 2 tahun lalu. Bahkan omzet penjualan besek meningkat tajam.

    “Peningkatan omzet pesanan besek tahun ini mencapai 60 persen. Karena setelah adanya kampanye tidak menggunakan plastik sejak 2 tahun lalu, warga berpaling ke besek yang ramah lingkungan,” ujar Widi Nurmahmudy, owner Kampoeng Batara, pembina pembuatan besek masyarakat di Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kamis (30/7/2020).

    Keren! Dari Sedotan Bambu, Pemuda Madiun Raih Omzet Rp90 Juta/Bulan

    Hingga kini, ada 12 perajin di bawah binaan Kampoeng Batara Papring yang memproduksi besek dan aneka kerajinan dari anyaman bambu lainnya. Mereka dalam sepekan, mampu menghasilkan 3.000 hingga 5.000 besek.

    “Di Lingkungan Papring sendiri, total perajin besek dan anyaman bambu berjumlah sekitar 60 orang. Jika ada pesenan banyak, seluruh kekuatan warga Papring akan bersama-sama memenuhi pesanan tersebut,” tambah pemuda kreatif yang sering mendapat penghargaan regional maupun nasional ini.

    Pemesanan dilakukan oleh beberapa panitia penyembelihan hewan kurban di Banyuwangi. Mereka mematok harga antara Rp2.000 hingga Rp15.000 tergantung ukuran. “Tergantung besar dan kecil. Juga tergantung pola dari anyaman,” tambahnya.

    Gulai Cancang Daging Sapi yang Maknyus, Ini Cara Membuatnya

    Menurutnya, sumber daya alam (SDA) bambu sebagai bahan baku tidak akan pernah habis. Mengingat sekarang di Papring ada gerakan menanam bambu di lahan-lahan atau kebun-kebun warga.

    “Kami di Lingkingan Papring ini sangat membutuhkan workshop, atau tempat kerja yang luas. Sehingga hasil kerajinan warga bisa tersimpan dengan baik. Bukan seperti sekarang tersimpan di dapur dan bisa merusak kualitas jika dalam waktu lama,” jelas Widi.

    Butuh Pelatihan Keterampilan

    Selain workshop, potensi yang di ada di Papring perlu adanya sentuhan pelatihan khusus. Mengingat sekarang banyak yang memesan khusus, dengan model anyaman terbaru.

    Puluhan Pelaku Wisata Desa di Madiun Dilatih Membuat Seni Instalasi Bambu

    “Kalau pesanan khusus, kami hanya bisa memberdayakan 12 perajin yang selama ini sudah aktif mengikuti perkembangan motif anyaman. Namun 60 perajin lainnya, masih memproduksi besek standar seperti yang dilakukan secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu,” kata Widi.

    Generasi-generasi muda di Lingkungan Papring, sekarang tambah bersemangat menekuni kerajinan anyaman bambu. Mereka tertantang untuk mengoptimalkan potensi yang diwarisi secara turun-temurun itu. Apalagi sumber daya alam yang tidak habis di desanya. Bahkan mereka tidak malu lagi, jika harus mengantar pesanan besek ke kota.

    Olahan Daging Ala Korea Ini Bisa Jadi Referensi Menu Saat Iduladha Nanti

    Widi berharap, ada lembaga atau instansi terkait yang memberikan pelatihan sebagai tambahan ketrampilan. Mengingat saat hajatan seperti sekarang, sudah banyak orang yang beralih menggunakan souvenir dan buah tangan dari anyaman bambu.

    “Saat ini, kami mendapat pesanan 1.000 lebih souvenir pernikahan. Antara pemesan yang satu dengan lainnya beda motif. Karena itu pengetahuan tentang anyaman ini harus terus di-update sesuai permintaan,” pungkasnya.



    Editor : Arif Fajar Setiadi

    Get the amazing news right in your inbox

    Berita Terpopuler

    0 Komentar

    Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.

    Komentar Ditutup.