Butuh Proses Panjang, Begini Cara Warga di Gunung Wilis Memproduksi Kolang-Kaling

Warga di lereng Gunung Wilis memproduksi kolang-kaling dengan cara tradisional.

Butuh Proses Panjang, Begini Cara Warga di Gunung Wilis Memproduksi Kolang-Kaling Aktivitas para perajin kolang-kaling di Desa Padas, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Rabu (6/5/2020). (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

    Madiunpos.com, MADIUN — Buah kolang-kaling menjadi buruan bagi sebagian masyarakat saat bulan Ramadan. Buah ini biasanya digunakan untuk campuran berbagai makanan dan minuman, seperti kolak, es buah, atau jadi manisan kolang-kaling.

    Masyarakat Indonesia tentu sangat akrab dengan buah ini. Teksturnya yang kenyal membuat buah ini disukai banyak kalangan, mulai anak-anak sampai dewasa.

    Salah satu penghasil buah kolang-kaling ini ada di Desa Padas, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Masyarakat di lereng Gunung Wilis tersebut sudah akrab dengan tanaman tersebut. Sebagian besar warga di desa itu memiliki pohon aren atau buah kolang-kaling. Pohonnya menjulang ke atas seperti pohon kelapa.

    Awak Madiunpos.com mengunjungi sentra pembuatan kolang-kaling di Desa Padas, Rabu (6/5/2020) siang. Saat datang ke desa ini, ada sejumlah warga yang sedang sibuk di sebuah gubuk.

    Duh, Anggota DPRD Kota Madiun Terjaring Operasi Balap Liar

    Ada empat orang ibu-ibu, yaitu Uminatun, Mestini, Semi, dan Marsih terlihat sedang mengupas buah kolang-kaling. Mereka menggunakan sebilah pisau untuk mengeluarkan isi dari buah aren tersebut.

    Para ibu-ibu ini sejak pagi hari sudah berada di gubuk atau rumah produksi pengolahan kolang-kaling tersebut. Proses produksi kolang-kaling ini cukup panjang dan dilakukan secara manual.

    Pemilih rumah produksi kolang-kaling di Desa Padas, Sukar, 62, mengatakan proses pembuatan kolang-kaling ini cukup panjang. Ia harus menunggu pohon aren berbuah. Pohon aren ini musim buahnya tidak tentu.

    Inka Bagikan 1.700 Paket Sembako Kepada Masyarakat Terdampak Covid-19

    Untuk memanen buah aren itu, dibutuhkan keahlian khusus. Karena pohon aren bisa mencapai belasan meter. Proses panennya pun masih secara manual yakni dengan memanjat pohon dan memotong setiap tangkai buah yang rimbun.

    “Buah aren yang dipanen harus benar-benar matang. Kalau masih muda, nanti isinya tidak bagus,” kata dia.

    Buah aren yang sudah matang lantas langsung dibawa ke rumah produksi kolang-kaling. Buah aren pilihan itu kemudian direbus di atas tungku dengan perapian yang membara hingga benar-benar matang.

    Deflasi Madiun Tertinggi Se-Jatim, Disebabkan Daya Beli Masyarakat Rendah

    “Buah aren ini harus direbus hingga benar-benar matang. Ini supaya tidak gatal. Kalau masih mentah, getahnya bisa membuat gatal,” ujar pria yang telah 40 tahun menggeluti usaha ini.

    Sekitar satu jam buah aren ini direbus. Dalam satu kali masak, satu tungku biasanya hanya bisa menampung sekitar 5 kg saja.

    Buah yang benar-benar sudah matang kemudian masuk ke tahap pengupasan. Biji-biji yang ada di buah aren ini dikeluarkan. Satu buah biasanya ada tiga butir biji berwarna putih. Biji ini yang dinamakan kolang-kaling.

    Untuk mengupasnya pun tidak boleh asal-asalan. Ada teknis pengupasan yang digunakan supaya kolang-kaling tidak rusak saat buah dikupas.

    “Alatnya ya hanya menggunakan pisau itu. Jadi dikupas satu per satu. Memang membutuhkan banyak tenaga. Karena ini dikerjakan secara manual semua,” jelasnya.

    Setelah itu kolang-kaling itu dibersihkan dan direndam dengan kapur sirih dan air bersih. Setelah itu kolang-kaling siap dijual.

    Sensasi Rendang Ayam Kampung

    Untuk harga per kilogramnya, ia menjual ke tingkat pedagang sekitar Rp16.000. Harga ini cenderung naik saat bulan Ramadan, pada hari biasa harganya hanya Rp8.000/kg.

    Seorang perajin kolang-kaling, Uminatun, 35, mengatakan dalam sehari rata-rata bisa menghasilkan kolang-kaling siap jual sekitar 4 karung atau 200 kg. Kolang-kaling itu akan dijual di sejumlah pasar di Kabupaten Madiun dan Pasar Besar Madiun.

    “Ini buahnya sudah tidak begitu banyak. Ini sudah mau habis. Biasanya bisa sampai lebih dari lima karung,” ujar warga Desa Padas ini.



    Editor : Abdul Jalil

    Get the amazing news right in your inbox

    Berita Terpopuler

    0 Komentar

    Belum ada komentar, jadilah yang pertama untuk menanggapi berita ini.

    Komentar Ditutup.